Month: December 2019

Trump dan Perang Dagang Amerika Serikat

Perang dagang mungkin jarang memiliki pemenang. Namun biasanya mereka memiliki seorang pecundang, dan jelas bahwa Donald Trump telah menjadi pecundang itu. Tentu saja bukan itu cara dia dan timnya menggambarkan kesepakatan yang mereka buat dengan China yang mereka klaim sebagai kemanangan. Nyatanya, administrasi Trump tidak mencapai tujuannya, seolah mereka menyatakan kemenangan sambil mundur dengan cepat. Para pejabat Cina dilaporkan The Times bahwa mereka sangat gembira bahkan tidak percaya atas keberhasilan negosiasi garis keras mereka. Untuk memahami apa yang sedang terjadi, anda perlu bertanya apa yang Trump dan perusahaan coba capai dengan tarif mereka, dan bandingkan hal itu dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Pertama, Trump ingin memangkas defisit perdagangan Amerika. Para ekonom menganggap ini sebagai tujuan yang salah, tetapi bagi Trump negara menang ketika mereka menjual lebih banyak daripada yang mereka beli, dan tidak ada yang mencoba meyakinkannya sebaliknya. Jadi, perlu dicatat bahwa defisit perdagangan telah naik selama Trump berkuasa, dari $544 miliar pada 2016 menjadi $691 miliar pada tahun terakhir.

Apa yang diinginkan Trump secara khusus adalah menutup defisit perdagangan barang-barang manufaktur, meskipun memberikan layanan kepada “Petani Patriot yang Hebat”, terlihat jelas bahwa ia sebenarnya menghina ekspor pertanian. Musim panas lalu, ia mengeleuh tentang hubungan perdagangan dengan Jepang, ia mengatakan “Kami mengirim mereka gandum, dan gandum itu bukan persetujuan yang baik.” Sekarang tampaknya kita memiliki kesepakatan perdagangan dengan China yang poin utamanya adalah janji untuk membeli banyak barang pertanian Amerika.

perang-dagang

Trump dan timnya juga ingin menghentikan semangat Tiongkok untuk menjadikan mereka sebagai negara adidaya ekonomi dunia. Kesepakatan bari itu, meski termasuk beberapa janji untuk melindungi kesepakatan intelektual, tetap tidak bisa menyentuh inti strategi Industri Tiongkok yaitu jaringan subsidi besar yang sudah memicu kebangkitan global banyak perusahaan China.

Trump bisa dikatakan keluar dari perdagangan karena ia menderita delusi keagungan, Amerika tidak akan bisa menggertak negara besar yang bangga akan ekonominya, dan mungkin lebih besar dari Amerika sendiri. Pada tingkat yang lebih dalam, faktanya tidak ada strategi perdagangan Trump yang bekerja dengan baik.

Meski Trump bersikeras bahwa China membayar tarifnya, fakta yang ada sebaliknya. Harga ekspor China tidak turun, yang berarti tarifnya dibebankan pada konsumen dan perusahaan Amerika. Pada saat yang sama, pembalasan Tiongkok telah membuat beberapa eksportir Amerika, terutama petani mundur. Akhirnya ketidakpastian kebijakan tarif jelas merugikan investasi bisnis dan manufaktur, bahkan ketika pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan pada angka yang solid.

Mungkin kekalahan perdagangan tidak akan mempengaruhi Trump secara politis. Ini mungkin strategi politik yang baik untuk melakukan hal-hal bodoh untuk beberapa waktu, lalu kemudian berhenti sekitar satu tahun sebelum pemilhan, yang merupakan ringkasan atas apa yang dilakukan Trump dalam perdagangan.

Di sisi lain, saingan Amerika telah belajar untuk tidak takut kepadanya. Korea Utara tetap membangun nuklir sambil menyanjung Trump, dan China telah mengambil langkah.  Mereka sekarang tahu bahwa Trump berbicara dengan keras tetapi membawa tongkat kecil, dan mundur ketika berhadapan dengan cara yang mungkin menyakitinya secara politik. Memiliki pemimpin yang tidak ditakuti oleh pesaing Amerika jelas mengurangi pengaruh global mereka. Perang dagang Trump jelas sudah membawa Amerika menjadi lemah lagi.